Kos gue di Jalan Kaliurang itu sempit, kamarnya cuma 3x3 meter, dan yang paling menyebalkan: sinyal sering hilang pas hujan. Tapi justru di kamar sempit itulah gue pertama kali belajar arti bisnis yang sebenarnya. Bukan dari kelas kewirausahaan, bukan dari seminar motivasi yang tiketnya seharga uang makan seminggu. Dari orderan yang sepi, pelanggan yang ngambek, dan dompet yang makin tipis.
Gue mahasiswa perantau, jauh dari rumah, dan tiap bulan harus mikir dua kali sebelum beli kopi kekinian. Waktu itu gue pikir, daripada ngandelin kiriman orang tua terus, mending gue coba jualan sesuatu. Sesuatu yang gampang, murah, dan katanya lagi laris. Jadi gue mulai jualan kaos sablon online. Modal awal? Nekat. Beneran nekat.
Modal Nekat dan Pelajaran Pertama yang Bikin Mules
Gue ingat banget malam pertama gue buka lapak di marketplace. Foto produk gue jelek, deskripsi gue ngarang, dan gue yakin banget bakal langsung banjir orderan. Ternyata seminggu lewat, yang datang cuma satu chat: "Mas, ini ready?" Gue jawab semangat, eh orangnya hilang entah ke mana. Klasik.
Dari situ gue sadar satu hal yang nggak pernah diajarin di kelas mana pun: produk bagus nggak ada artinya kalau nggak ada yang tahu. Gue terlalu sibuk mikirin desain kaos, tapi lupa mikirin gimana orang nemu toko gue. Ini pelajaran yang mahal, karena gue udah keluar duit buat stok kaos yang sekarang numpuk di bawah kasur.
Baca juga: Jangan Ikut Tren Bisnis Online Sebelum Kamu Lakukan Ini
"Bisnis itu bukan soal seberapa keren ide kamu, tapi seberapa cepat kamu sadar ide kamu nggak jalan."
Kalau kamu anak rantau yang lagi mikir buka usaha, saran gue sederhana: jangan mulai dari produk. Mulai dari orang. Siapa yang mau beli, kenapa mereka mau beli, dan di mana mereka biasa nongkrong. Gue baru ngerti ini setelah tiga bulan boncos.
Saat Gajian Freelance Datang, Gue Malah Belajar Soal Uang
Setelah kaos sablon gagal, gue coba jalur lain: freelance desain. Kebetulan gue lumayan bisa main Photoshop, jadi gue tawarin jasa bikin feed Instagram ke warung kopi dan UMKM kecil di sekitar kampus. Awalnya canggung, tapi lama-lama ada aja yang mau bayar. Dan di sinilah gue ketemu pelajaran kedua yang lebih pahit.
Gajian pertama dari freelance itu rasanya kayak jadi orang kaya. Duitnya langsung gue beliin sepatu, traktir teman, dan sisanya entah ke mana. Dua minggu kemudian gue panik karena proyek berikutnya belum cair. Cash flow, kata orang-orang keren. Gue baru tahu artinya setelah kehabisan uang di tengah bulan.
Yang Gue Ubah Setelah Kejadian Itu
- Gue pisahin rekening buat modal usaha dan uang jajan. Nggak boleh dicampur, karena pasti bocor.
- Gue catat semua pemasukan dan pengeluaran di notes HP. Sederhana, tapi nyelametin.
- Gue stop beli stok barang sebelum ada yang pesan. Pre-order dulu, baru produksi.
- Gue naikin harga jasa gue pelan-pelan setelah sadar selama ini gue kemurahan.
Poin terakhir itu yang paling berat. Anak rantau kayak kita sering merasa nggak berhak minta bayaran layak karena takut kehilangan klien. Padahal kalau terus kayak gitu, kita cuma sibuk tapi nggak untung. Gue belajar ini dari satu klien yang malah ngasih masukan: "Bang, harga kamu terlalu murah, nanti susah naikinnya."
Pulang Kerja, Nemu Pelajaran yang Nggak Ada di Buku
Ada satu momen yang nggak akan gue lupa. Suatu malam gue pulang kerja part-time jam 11 malam, capek, dan nemu paket kaos sisa jualan masih numpuk di kasur. Gue duduk di lantai kos, ngerasa gagal. Tapi anehnya, di titik itu gue justru ngerti kenapa banyak anak rantau yang nekat bisnis terus berhenti di tengah jalan.
Kita sering keburu pengen kelihatan sukses. Update story ada orderan, pamer omzet, padahal di belakang layar masih ngos-ngosan. Gue juga sempat kayak gitu. Tapi setelah gagal beberapa kali, gue sadar bisnis buat mahasiswa perantau itu bukan soal cepat kaya. Ini soal belajar bertahan dengan sumber daya seadanya.
Kos sempit, modal tipis, dan waktu yang terbatas antara kuliah dan kerja itu justru jadi laboratorium paling jujur. Kalau kamu bisa jualan di kondisi kayak gini, kamu bakal lebih siap pas nanti punya modal lebih. Sebaliknya, kalau kamu cuma jago pas modalnya gede, begitu modal habis kamu bakal bingung.
Hal-Hal yang Gue Harap Gue Tahu dari Awal
Kalau bisa balik ke masa itu, ada beberapa hal yang pengen gue bisikin ke diri gue sendiri. Pertama, jangan takut mulai kecil. Jualan ke teman sekos, ke tetangga kamar, ke grup angkatan. Nggak usah gengsi, karena semua bisnis besar pernah mulai dari pelanggan pertama yang bahkan nggak bayar penuh.
Kedua, jangan ikut tren cuma karena ramai. Gue sempat ikut jualan barang yang lagi viral, dan ujungnya cuma numpuk stok. Tren itu cepat datang dan cepat pergi, sementara pelanggan setia dibangun pelan-pelan. Ketiga, jangan malu minta pendapat orang yang lebih berpengalaman. Gue banyak belajar dari senior yang udah buka usaha, dan mereka biasanya senang cerita kalau kita mau dengerin.
Dan yang terakhir, jangan ukur keberhasilan dari omzet bulan pertama. Ukur dari apakah kamu masih mau lanjut bulan berikutnya. Anak rantau yang bertahan itu bukan yang paling pintar, tapi yang paling tahan banting dan paling jujur sama kondisi dompetnya sendiri.
Gue masih di kos yang sama sampai sekarang. Masih sempit, masih suka kehilangan sinyal. Tapi sekarang gue nggak panik lagi tiap akhir bulan, karena gue udah tahu bedanya jualan buat gaya-gayaan dan jualan buat bertahan hidup. Kalau kamu lagi di posisi yang sama, mulai aja dulu. Nggak perlu modal gede, cukup nekat yang terukur dan catatan pengeluaran yang rapi.