Dulu, waktu masih aktif kerja, saya selalu membayangkan masa pensiun itu isinya duduk santai di teras, baca koran, minum kopi. Nyatanya? Baru tiga bulan pensiun, saya sudah gelisah luar biasa. Bukan karena kekurangan uang, tapi karena kepala ini rasanya kosong. Nggak ada yang harus dipikirkan, nggak ada target, nggak ada rapat. Dan jujur, rasa kosong itu yang akhirnya mendorong saya—dengan agak nekat, sih—untuk coba buka usaha kecil-kecilan.
Artikel ini bukan soal resep sukses bisnis. Saya bukan pengusaha kaya yang bisa bagi-bagi ilmu. Saya cuma pensiunan biasa yang belajar dari kesalahan sendiri, dan kalau pengalaman ini berguna buat kamu yang sedang di posisi sama, ya sudah, lumayan.
Berawal dari Salah Paham Soal "Modal Kecil"
Usaha pertama saya: jualan kopi kemasan. Kelihatannya gampang. Beli biji kopi, kemas, jual lewat WhatsApp dan tetangga. Modal awal saya kira cuma dua juta. Ternyata eh ternyata, dua juta itu habis cuma buat kemasan, stiker, dan satu mesin seal plastik yang sampai sekarang saya nggak yakin kenapa saya beli.
Baca juga: Freelance atau Bisnis Kecil? Gue Dulu Salah Pilih
Ini pelajaran pertama yang saya dapat dan mungkin paling penting: modal kecil itu sering cuma ilusi di kepala kita. Waktu masih kerja, saya terbiasa melihat angka besar dan menganggapnya wajar. Begitu uangnya uang pensiun sendiri, baru sadar tiap ratus ribu itu berasa.
"Bisnis itu bukan soal berapa besar modalnya, tapi seberapa jujur kita menghitungnya."
Saya sempat nggak jualan apa-apa selama hampir dua bulan gara-gara ini. Bukan bangkrut, tapi lebih karena bingung dan agak malu sama diri sendiri. Untung istri saya sabar dan cuma bilang, "Ya sudah, anggap biaya belajar." Kalimat itu yang bikin saya lanjut.
Yang Saya Pelajari Soal Ritme Kerja Setelah Pensiun
Ini yang nggak pernah saya baca di artikel mana pun. Setelah puluhan tahun kerja dengan jadwal yang ditentukan orang lain, tiba-tiba saya harus menentukan jadwal sendiri. Dan itu ternyata susah. Awalnya saya kerja terlalu keras—bangun jam lima, urus pesanan sampai malam. Dua minggu kemudian badan drop. Setelah itu malah kebalikannya, jadi malas karena merasa "kan sudah pensiun".
Yang akhirnya berhasil buat saya: bikin jam kerja yang tegas, tapi santai. Pagi sampai jam sebelas untuk urusan usaha. Siang istirahat, kadang tidur. Sore baru cek pesanan lagi sebentar. Nggak muluk-muluk, tapi konsisten.
Beberapa hal kecil yang ternyata berpengaruh besar:
- Catat semua pengeluaran, sekecil apa pun. Dulu saya kira ini cuma formalitas, ternyata dari catatan itu saya baru sadar ongkos kirim dan plastik itu lumayan menggerus untung.
- Jangan langsung percaya omongan orang soal "pasti laku". Tetangga yang bilang produk kita bakal laris belum tentu beli. Saya sudah kena.
- Pisahkan uang usaha dan uang dapur. Ini kelihatan sepele, tapi waktu itu saya sempat pakai uang belanja buat beli stok, dan ributnya minta ampun.
- Mulai dari lingkaran terdekat. Teman-teman lama, mantan rekan kerja, tetangga. Mereka yang paling toleran sama produk yang belum sempurna.
Rasa Takut yang Nggak Pernah Saya Ceritakan ke Siapa pun
Ada satu hal yang jarang dibahas soal pensiunan buka usaha: rasa takut kehilangan. Bukan takut miskin, tapi takut uang pensiun yang susah-susah dikumpulkan itu habis gara-gara keputusan bodoh saya sendiri. Rasa takut ini bikin saya terlalu hati-hati di awal, sampai-sampai nggak berani keluar duit buat promosi. Akibatnya ya sudah bisa ditebak, sepi.
Yang akhirnya menyadarkan saya: kalau saya nggak berani ambil risiko kecil, usaha ini cuma jadi hobi yang mahal. Jadi saya bikin aturan sendiri—sisihkan maksimal 20 persen dari dana pensiun untuk usaha, sisanya jangan disentuh. Dengan begitu, kalau pun gagal, hidup saya nggak ikut hancur. Batas ini yang bikin saya berani melangkah lagi.
Oh iya, satu lagi. Saya juga belajar nggak semua saran orang perlu diikuti. Ada yang bilang saya harus langsung buka toko online di banyak marketplace. Ada yang bilang harus punya merek dan logo dulu. Saya coba sedikit-sedikit, dan ternyata yang paling cocok buat saya justru jualan lewat grup WhatsApp dan kenalan. Sederhana, tapi jalan.
Jadi, Apa yang Sebenarnya Saya Dapat?
Setelah sekitar satu setengah tahun, usaha kopi saya belum besar. Omzetnya masih naik-turun, kadang ramai kadang sepi. Tapi ada yang berubah dalam diri saya: saya jadi punya alasan bangun pagi lagi. Ada yang bisa dipikirkan, ada yang bisa diperbaiki, ada rasa kecil bangga waktu ada yang bilang kopinya enak.
Kalau kamu pensiunan dan sedang mempertimbangkan buka usaha, saya cuma mau bilang: nggak ada salahnya coba. Tapi coba dengan hitungan yang jujur, dengan batas modal yang jelas, dan dengan kesiapan bahwa nggak semua hari akan menyenangkan. Usaha itu bukan obat mujarab buat rasa kosong setelah pensiun, tapi setidaknya ia memberi kita sesuatu untuk diurus—dan buat saya, itu sudah cukup.
Dan kalau gagal? Ya sudah. Paling nggak, kita punya cerita buat diceritakan ke cucu.